Tulisan dalam Tulisan

Sekelompok perempuan di seberang meja

 

Sabtu yang ditunggu-tunggu kembali datang. Hari pertama dalam weekend, yang entah sejak kapan kupatenkan untuk menjadi hari me time jikalau memang tidak ada kesibukan akademik ataupun acara lain.

Jika minggu lalu kuputuskan untuk mengisi me time dengan tujuan membuat pikiran yang penat menjadi kembali fresh melalui serangkaian perawatan wajah atau facial di klinik langganan, maka minggu ini ku isi Sabtu pagiku dengan kegiatan yang well sedikit lebih bermakna dan bermanfaat bagiku.

 

Pagi ini, aku mengikuti seminar industri kreatif dengan judul “talkshow kepenulisan : explore your idea and be a creative writer” yang diadakan oleh Politeknik Elektronika Negeri Surabaya dengan pembicara yang luar biasa yaitu penulis Dee Lestari. Aku bukanlah penggemar Kak Dee (sapaan akrab buat si pembicara), aku juga gak hobi baca novel dan well apalagi untuk baca dan ngikutin apa yang ditulis olehnya. Tapi satu hal, niatku ikut acara ini murni untuk mengisi waktu kosong dengan sesuatu yang bermanfaat, menambah wawasan tentang kepenulisan, dan sedikit banyak menjadi penyokong motivasi untuk keberlanjutan hobi lamaku, yaitu menulis.

 

Aku memang seorang teknik kimia, cita-citaku menjadi process engineer, tetapi bukan berarti aku tidak boleh belajar untuk menulis. Sesuai dengan tips-tips dari Kak Dee pada talkshow yang berlangsung kurang lebih 2 jam tadi, aku menyimpulkan :

Salah satu hal terpenting dalam menulis adalah ide. Ide diperoleh di manapun dan kapanpun dan ide selalu ada di sekitar kita. Ide, tidaklah mendatangi seseorang yang super atau beruntung ataupun berbakat menulis. Tetapi, ide datang ke seorang yang lebih besar dari itu semua, lebih super dari manusia super manapun. Ya, ide datang kepada mereka, yaitu siapapun yang peka.

So, singkatnya menulis menjadikan kita lebih peka terhadap sekitar kita dan kurasa ini adalah miracle ya buat kita-kita yang punya hobi menulis.

 

Selesai acara, tepat pukul 12 siang, aku melanjutkan me time dengan makan sendiri tentunya, di salah satu tempat makan favoritku yaitu Kober mie setan. Meski matahari begitu terik, entah mengapa yang kepikiran di otak adalah makan makanan yang super pedes, sampe keringetan dan sampe nangis-nangis. Lama-lama, ini jadi aktivitas rutin di setiap me time karena ampuh banget buat ngilangin stres HAHAHA.

 

Kembali ke sekelompok perempuan di seberang meja ,

Berawal dari tips-tips Kak Dee tentang ide menulis dan karena siang tadi aku hanya seorang diri di tengah keramaian, aku pun memutuskan untuk mengamati sekeliling. Hingga pengamatanku berbuah pada tulisan :

 

Sabtu siang ini, dengan udara Surabaya yang begitu panas meradang rupanya tidak menyurutkan keinginan orang-orang untuk tetap menikmati makan siang di tempat favorit mereka. Sebagian memilih makan siang dengan pacar, teman, keluarga dan ada sebagian kecil, seperti aku misalnya yang lebih memilih untuk makan seorang diri. Awalnya, sembari menunggu pesanan, aku mengisi kebengongan dengan mengutak-atik hape sekedar untuk mengecek beberapa update-an media sosial. Bosan dengan hape, pandanganku pun tertuju kepada sekelompok perempuan di seberang mejaku. Mereka berjumlah enam orang, semua berkerudung dan semua bersmartphone. Bukan, bukan kerudung mereka ataupun smartphone mereka yang menjadikanku terfokus pada mereka. Hanya saja, aku mencoba menerka-nerka. Berapa umur mereka?

Sepintas, kuperhatikan muka mereka. Wajah-wajah anak kecil, mungkin SMP kelas satu atau bahkan malah masih SD. Tubuh mereka kecil, belum terlihat bentuk tubuh layaknya wanita atau remaja. Lalu, kuperhatikan cara berpakaian mereka. Berkerudung dengan style wanita dewasa, memakai baju dengan style wanita dewasa hanya bedanya mereka tidak memakai make-up.

 

Kemudian pikiranku menerawang kembali ke pagi tadi, ketika sempat mengantuk di sela-sela talkshow, aku menyempatkan untuk membaca berita yang ada di timeline salah satu media sosialku. Berita yang membuatku miris, terjadi di Surabaya dan dialami oleh perempuan kecil berusia 12 tahun, kira-kira begini cuplikan berita yang kubaca tadi pagi :

Perempuan kecil ini berusia 12 tahun. Mengalami tindak asusila, pemerkosaan oleh beberapa anak yang salah satu nya juga berusia 12 tahun. Alasan pelaku? Menonton film pornografi lewat warnet. Latar belakang korban? Keluarga broken home dengan ibu mantan pekerja Dolly. Akibat? Korban kecanduan pil koplo selain mengalami tindak asusila.

 

Mungkin jaman sudah berubah. Ketika usiaku 12 tahun, aku bahkan belum mengenal apa itu internet. Belum mengenal pergi ke warnet. Belum berdandan layaknya wanita dewasa, pakaian cukup kaos dan celana jins. Simple. Belum bersenda-gurau dengan bebas bersama teman-teman di tempat yang jauh dari rumah, anak pingit ceritanya ga boleh kemana-mana. Main paling jauh ya ke rumah teman, itupun di anter jemput sama Bapak.

 

 

Dari tulisan ini, aku ingin mengajak kita semua terutama kalian yang hobi menulis, yuk menulis. Apapun itu, seenggak jelasnya tulisan kamu, berlatihlah menulis. Menulis sedikit banyak mengajak kita berpikir, mengajak kita membuka wawasan, mengajak kita peka terhadap sekeliling.

 

Lalu, bagaimana pendapat kalian tentang jaman sekarang ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s