Guide Gadungan

Alkisah di zaman yang serba modern ini, hiduplah dua orang perempuan muda yang mendeklarasikan di depan semua mata yang menyaksikan bahwa keduanya adalah sepasang sahabat karib. Layaknya sepatu yang tak pernah sempurna jika hanya sebelah, begitulah persahabatan yang terjalin di antara keduanya.

ini bukan dongeng kok, cuma narasi panjang yang bakal rada membosankan HAHAHA

Empat tahun di Surabaya, gak kerasa, dari yang semula enek banget sama panasnya yang menyayat hati mengiris jiwa sampai enek bangetnya bikin terbiasa juga. Dari yang semula gak doyan makanan di Surabaya sampai gak doyan makanan di Keputih. Dari yang semula buta arah dan takut tiap naik motor di Surabaya sampai sekarang rada suka kalau keluar kemana-mana sendirian. Empat tahun ini karena posisinya mojok di peta Jawa, apalagi kalo kacamatanya dari orang-orang Jateng, bikin kota tempat aku kuliah ini gak pamor di kalangan temen-temenku buat dikunjungi.

jauh, Ya. cape, Ya. ongkosin, Ya. kalo sempet ya, Ya. Gitu sih tanggepan temen-temen.

Hari Minggu kemarin, dengan segala kenekatan karena si Coco dengan polosnya main pergi aja tanpa bilang bapak sama ibunya, akhirnya sampai juga Coco di Surabaya. Mungkin udah pada kenal Coco ya ( baca : 2 days 2 nights with coco ) , atau sebut saja dalam cerita ini sebagai ibu negara dari Semarang. Kesan pertama panas, kesan kedua jauh ya jarak stasiun ke ITS . Menanggapi ini saya juga bingung, kenapa sih Surabaya gak bisa menutupi kesan jelek di pertemuan pertama. 

bad first impression as always, but believe it ! living here for almost 4 years makes me realize this is a lovely city and I love it!

Berhubung Ibu Negara naik si cantik Maharani dari Semarang ke Surabaya, perjalanan empat jam lumayan bikin punggung kebas. Kebas dalam artian capek luar biasa ya, pembaca. Maklum sih, si cantik ini kereta ekonomi yang meskipun lajunya kenceng tetep aja kereta ekonomi dengan kursi tegak 90 derajat dan posisi duduk terpaksa tegak karena samping kanan, kiri plus depan selalu terisi manusia lain.

Diawali pada sore hari saat menjemput Coco di stasiun, dimulailah tugas baruku sebagai guide gadungan. Sepanjang perjalanan, aku menunjuk bangunan-bangunan di kanan-kiri jalan yang menjadi ikon kota Surabaya. Sesampainya di ITS, aku menyuarakan welcome to ITS, co. Sedikit meringankan rasa kebas punggung dan untuk menghilangkan lengket di badan, aku mengajak Coco menuju kosan, welcome to 1D 55 , co (lagi). Malam harinya, berhubung ibu Negara punggungnya tetap kebas , aku pun mengajak dia ke Tjap Tunjungan di kawasan Pakuwon, dengan waktu tempuh lima menit dari kosan. Menu yang kami makan malam itu Suroboyo banget, nasi bakar Bu Rudy, the one and only Bu Rudy nya Surabaya.  Bu Rudy, tempat makan yang waktu sore dilewatin di Jalan Dharmahusada dan sempet aku kasih tunjuk ke Coco.

Hari pertama Coco di Surabaya : Lontong Balap Garuda Pak Gendut dan Tunjungan Plaza.

Awalnya bingung juga, kemana ya di Surabaya ? siang-siang? sore udah harus balik? 

jawabannya ngemall.

Jadi, Surabaya emang punya banyak banget Mall. Kalau Coco sadar, dari kosan sampai ke Tunjungan udah 5 mall yang dilewatin dan Tunjungan itu mall ke lima (East coast, GM, GC, Delta, BG junc, ups 6 ternyata!). Nah, destinasi ini cocok sih buat siang-siang karena Surabaya itu panas banget, jam delapan pagi rasa jam sepuluh, jam sepuluh pagi rasa jam 12 siang dan jam 12 siang rasa apa? yang jelas rasanya gak seenak coklat, gak sepait kopi juga. Untuk kuliner, ini sih sebenernya akal-akalan aku aja yang lagi ngidam lontong balap Pak Gendut. Untungnya, akal-akalan ini berjalan mulus karena Coco pengen juga nyobain makanan yang cuma ditemuin di Surabaya ini. Lokasinya lumayan kalau dari ITS, dekat embong Malang, belakang BG Junction pas dan otentik Lontong Balap Pak Gendut. Sempet mikir, takut-takut Coco gak suka sama rasanya, alhamdulillah sih suka juga ternyata. Ini notabene aja merupakan satu-satu kuliner khas Surabaya yang aku suka. Seger dan gak melulu petis.

20160526221547

penampakan Lontong Balap Pak Gendut yang selalu bikin ngiler

20160523_135359

ini loh, sang Ibu Negara dari Semarang

Selebihnya, siang itu aku sama Coco menghabiskan waktu dengan keliling TP sekedar cuci mata, cari camilan lucu sekalian sama barang-barang lucu. Sayang banget yah, gak bisa nonton di TP 5 karena harus balik ke kampus sebelum sore.

Malemnya, karena perjalanan dari TP yang deket-deket tapi tetep aja jauh dari ITS, aku pun memutuskan untuk makan malem bareng Coco dan Mas Khisni di Kukus Resto. Ini unik sih lumayan, nasi kukus tersaji dalam mangkok hotplate yang lagi-lagi saran dari seorang temen. Katanya, temen-temenku sih seneng La diajak ke kukus, untungnya Coco juga cukup puas sama tempat ini. Unexpectably, malam itu kita berdua ketemu sama temen SD kita, Dani, si anak Mesin 2012 yang juga se-SMP, se-SMA, sealmamater sama aku. Hahaha

20160523_203009

sekarang udah cantik-cantik, dari seumur jagung loh kita udah kenal dan jadi temen deket banget semasa SD sama Dani

Hari Kedua : ALL DAY OUT ! SURABAYA DAN SURAMADU !

Gak kerasa waktuku di Surabaya tinggal dalam hitungan bulan aja. Dari segala macam daftar yang belum kesampaian, salah satunya adalah nyetir motor jauh. Gak nanggung, kemarin destinasi pertama di Selasa pagi itu yaitu House of Sampoerna, ikon wajib yang harus dikunjungi jika kamu cuma punya waktu beberapa hari aja di Surabaya. Lokasinya lagi-lagi deket-deket Tunjungan, jauh dari ITS. Tepatnya sih, di daerah kalisosok, deket sama Jembatan Merah. Pagi itu, kita berangkat jam 8 pagi setelah sarapan nasi goreng di kampus buat ngejar SURABAYA HERITAGE TRACK  milik Sampoerna yang jadwal turnya pukul 9. well, bisa dibilang must visited place lah ! Kalau kalian mikir di dunia ini gak ada yang gratis, Sampoerna punya jawabannya. All tour is free and exciting.

20160524_08544920160524_100435

foto bareng Mas Khisni di depan sekolah Ongko Loro (abaikan muka si dedek)

Tur kemarin merupakan tur spesial Sampoerna, dalam rangka hari pendidikan yang jatuh 2 mei kemarin. Jadi selama Mei sampai awal Juni (lupa kapan pastinya), rute pagi SHT selalu ke Ampel, Sekolah Ongko Loro dan HBS (yang sekarang jadi kantor pos kebonrojo).

Selain tur dengan SHT, HOS juga punya museum, yang lagi-lagi free entry ya, dimana kamu bebas banget foto-foto disini. Jadi sambil ngadem habis ikut tur, sambil lihat-lihat ke dalam museumnya juga.

Sorenya, setelah tidur siang karena lumayan capek, destinasi kedua yaitu Madura. Okay, HOS mungkin gak seberapa jauh, tapi nyetir motor sendiri dan ngebonceng sampai ke luar pulau, mana bareng sahabat dari SD, akhirnya keturutan juga sebelum ninggalin Surabaya. Ada yang gagal dari susunan acara yang dibuat sama guide gadungan ini, niat ke bukit Jaddih, Bangkalan terpaksa batal karena siang gak memungkinkan dan sore lebih gak memungkinkan. Kendala cuaca hahaha. Tapi, semua kebayar dengan sunset dengan penampakan matahari bulat penuh, kerlap-kerlip lampu di jembatan dan di Pulau Jawa dari arah Madura selama kita nyeberangin Suramadu.

beautiful, but unfortunately we can’t take pictures 😦

Dengan tangan dan pantat yang udah kebas dan gak berasa apa-apa, perjalanan berlanjut balik ke Jawa karena hari udah makin gelap. Rencana ke Bangkalan gagal, rencana makan Sinjay juga gagal. Malam itu, tur Coco di Surabaya ditutup dengan makan mi setan yang sukses bikin guide gadungan mules-mules.

Last, bonus foto alay penulis

20160524_084251

foto bareng di depan HOS

20160524_084845

penulis yang sok unyu padahal udah lucu dari sananya HAHAHA

20160524_112254

OKE APAPUN ASAL SELFIE AJA 😀

20160524_112353

INI SUPER ALAY

Jangan kapok yak Co main sini, yang lain ditungguin nih visit SURABAYA !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s