Untungnya Berburuk Sangka

Beberapa hari yang lalu, aku membaca kalimat menarik ini dari salah satu timeline social mediaku. Bunyinya kurang lebih “carilah teman yang seperti cermin, yang ikut bahagia saat kita bahagia, yang ikut sedih ketika kita bersedih. jangan berteman dengan seseorang yang seperti uang, depan beda, belakang beda“. Nah, sederhana tapi bagus banget maknanya menurutku.

Ngomong-ngomong soal cermin, bagi kalian yang sering nonton film action, film berbau spy, police, dan semacamnya pasti gak asing lagi sama cermin dua sisi. Cermin dua sisi ini juga lumayan bagus filosofinya sih, kalo menurutku. Kita semua tahu, cermin dua sisi itu punya dua sisi. Satu sisi bisa dilihat orang yang menghadap ke sisi itu, tanpa mampu melihat apa yang ada di balik cermin itu. Sebaliknya, orang di sisi satunya pun demikian.

Bagiku, cermin dua sisi ini mengajarkan banyak hal hanya jika kita benar-benar mau memahaminya. Dari dia, aku belajar bahwa kita dalam menghadapi apapun yang terjadi kepada kita haruslah melihat dari dua sisi. Selalu ada dua sisi, sebagian orang, seperti halnya masing-masing manusia yang menghadap ke cermin itu, hanya mampu melihat satu sisi saja. Tapi, cermin dua sisi itu, dia bisa melihat keduanya. Dia ada di tengah keduanya.

Berada di tengah-tengah. Memahami apa yang ada di kanan dan kiri kita. Misalnya, berprasangka. Berprasangka buruk itu baik atau buruk? Sebagian besar orang mungkin akan langsung menjawab buruk. Tetapi, coba diam. Ada kah keuntungan berprasangka buruk? Berprasangka buruk itu gak cuma ke orang lain yah. Kalau itu, jelas dari sisi manapun gak ada baik-baiknya. Agama juga udah ngasih tau, kalau itu bagian dari dosa. Berprasangka buruk yang sering tidak kita sadari itu, ya berprasangka buruk kepada diri sendiri. Gak percaya diri, gak semangat, gak optimis, gak yakin dan sebagainya itu bagian dari berprasangka buruk ke diri sendiri.

Sekarang, kutanya lagi, berprasangka buruk itu baik atau buruk?

Kadang kita perlu itu, ya itu tadi, berprasangka buruk. Percaya atau gak, kadang kita membutuhkan rasa-rasa seperti tidak yakin, tidak semangat, tidak optimis, tidak percaya diri, asalkan kita mampu mengatasinya. Kalau kita orang yang mau belajar, yang kita lakukan selanjutnya pastilah bagaimana menghilangkan prasangka buruk pada diri kita sendiri. Ketika merasa tidak percaya diri, bangkit, melakukan segala hal sebisa kita yang mampu menaikkan kepercayaan diri kita. Ketika tidak optimis, kita bekerja dan berusaha lebih giat lagi, supaya mampu memperoleh keoptimisan. Begitu juga saat gak yakin. Ketika gak semangat, kita sekuat tenaga mencoba segala cara untuk membunuh kemalasan kita. Hasilnya? Pribadi lebih baik. Hanya jika kita benar-benar mau memahaminya ya, once again I say it.

Terbayang gak di pikiran kalian, kalau kita tiap hari berprasangka baik sama diri kita. Dalam arti tidak terkendali, ya. Dari situlah muncul istilah kepedean, atau yang paling parah menjurus sama kesombongan. Jalannya jadi super tegak, merasa bahwa kita manusia yang paling waw. Hanya jika prasangka baik kita tidak terkendali. Pengendaliannya ya mudah aja, imbangi prasangka baik itu dengan prasangka buruk. Kadang, hal-hal yang buruk belum tentu selalu membawa keburukan, hanya jika kita memahaminya, keburukan bisa menjadi awal dari sebuah kebaikan. Bahkan, kebaikan yang begitu besar.

Jadi, apa untungnya berburuk sangka? Cobalah menjadi cermin dua sisi yang bisa menemukan teman seperti cermin. Selamat beraktivitas πŸ™‚

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s