Yogyakarta

Begitu mendengar kata Yogyakarta atau Jogja, di benak kebanyakan kita pasti langsung terlintas tentang gudeg, sebagian orang mungkin langsung teringat akan bakpia pathok, dan sisanya mungkin akan langsung berpikir tentang malioboro. Bagi anak muda penyuka film, mungkin saja yang terlintas di benak mereka adalah AADC 2 yang lokasi syutingnya di sini.  Bagi instagram-ers, mereka yang suka hunting foto, mungkin langsung kepikiran sama hutan pinus Imogiri.

Bagiku, Jogja itu lebih dari gudeg, yang rasanya manis-manis ngangenin. Lebih dari bakpia, yang bikin mulut gak bisa berhenti ngunyah saking enaknya. Jogja itu mengingatkanku kepada pahitnya berharap, mengenalkanku dengan rasa ikhlas untuk melepaskan dan mengajariku indahnya kegagalan.

Empat tahun lalu, sama sekali gak terlintas di benakku akan menjadi apa aku saat itu. who knows, only God knows. Saat itu, aku cuma anak SMA yang baru lulus, yang pikirannya cuma nurutin kemauan, gak membuka mata untuk lebih realistis. Just an idealist girl dengan segala mimpinya untuk menjadi seorang Dokter.

Dokter. Iya, dokter. Pasti pada ketawa ya, karena kenyataannya sekarang beginilah aku, cuma seseorang yang bulan September nanti diwisuda dari Jurusan Teknik Kimia, dan masih dengan status sebagai pencari pekerjaan (untuk sekarang ini). who knows, only God knows

Kenanganku tentang Jogja juga gak berhenti di empat tahun lalu itu, tetapi terus berlanjut sampai di tiga tahun lalu. Tepatnya di tahun 2013, aku kembali mengejar mimpiku dengan sekuat tenaga. Rasanya masih seger banget di kepala, pada tahun itu, ketika aku sempoyongan sampai tanpa sadar berjalan jauh dari UNNES ke kosan temanku selepas mengikuti SBMPTN. Ketika aku pun sempoyongan selepas mengikuti UM UGM di fakultas psikologi UGM karena harus mengerjakan ujian selama kurang lebih 7 jam (ada jeda istirahat tentunya, aku lupa lama pastinya). Ketika aku mengurung diri seharian di kamar untuk menangis setelah tahu bahwa aku gagal, ketika aku begitu membenci takdir yang diberikan Tuhan kepadaku. Setidaknya, untuk waktu itu.

Ah, Jogja. Jogja yang setahun berikutnya setelah itu, tahun 2014, ku datangi lagi untuk mengucapkan perpisahan. Untuk berterimakasih atas apa yang diajarkannya kepadaku. Untuk benar-benar melepaskan impianku dan mengejar masa depanku yang sesungguhnya sudah ditakdirkan Tuhan. Bahwa membenci takdir Tuhan, juga adalah salah. Kemudian, tahun 2015 aku kembali, benar-benar kembali sebagai mahasiswa Teknik Kimia yang sudah lepas dari keinginan menjadi seorang dokter. Tanpa penyesalan, hanya kegembiraan untuk datang menikmati Jogja dan semua makanannya yang sangat ku suka. Karena jujur, salah satu alasan memilih Jogja sebagai tempat kuliah dulu adalah makanannya. Aku demen banget sama gudeg dan bakpia. Hehehe

Hari ini, hampir atau mungkin lebih dari setahun setelah itu, aku pun kembali ke Jogja. Untuk kembali menitipkan harapan. Bukan untuk menjadi seorang dokter tentunya, tetapi supaya aku memperoleh yang terbaik yang memang sudah ditakdirkan Tuhan. Untuk bisa bersabar hingga mampu memperolehnya. Sampai jumpa secepatnya, Jogja!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s