Tentang “dia”

halo calon suami,

Siang ini aku kepengen banget berbagi cerita tentang “dia” ke kamu. Dia ini siapa? Hahaha. Kamu gak perlu tau lah ya, calon suami, sebut aja dia dengan “dia”.

Calon suami, pernah gak kamu merasa jatuh cinta?

Buat aku, jatuh cinta itu susah-susah gampang. Dimana letak susahnya? I guess when we start to love someone, di situlah letak susah-susahnya. Seumur hidupku selama hampir 23 tahun ini, berapa kali aku jatuh cinta, rasanya bisa dihitung dengan jari. Satu, dua, tiga, empat, lima…hmm atau bahkan tiga, yang benar-benar jatuh. Atau mungkin satu? Entahlah. Perasaan memang seperti itu. Tidak ada yang tahu kapan ia akan datang, dan tak akan ada yang tahu juga kapan ia pergi. Susah untuk memulai jatuh cinta, dan susah juga ketika kita harus mengakhiri perasaan itu. Di luar itu, jatuh cinta itu mudah. Mudah ketika kita tanpa sadar sudah dipenuhi dengan berbagai kebahagiaan hanya karena satu kata, cinta. Semua terasa bahagia dan semua terasa indah, pada waktu itu.

Pertemuanku dengan “dia” mungkin tidak pernah akan bisa ku ingat. Karena pada awalnya, “dia” hanyalah dia, seperti halnya lelaki lain, “dia” belum ada artinya bagiku. Beberapa tahun setelah pertemuan awal kami yang benar-benar tak bisa ku ingat lagi, karena memang aku lupa, segala kondisi di sekitarku membuatku jadi lebih mengenal dia. Rasanya pada waktu itu universe mendukung kedekatan kami dari berbagai sisi. I mean, pada tahun itu, kami benar-benar terus bersama dalam setiap kesempatan yang ada.

Bagi aku yang sukar membuka hati dengan orang lain, dengan lelaki tentunya, kedekatan itu pada awalnya benar-benar biasa saja. Aku beranggapan bahwa “dia” adalah teman lelakiku, seperti juga teman-teman lelaki yang lainnya. Tapi siapa yang tahu? Ketika kedekatan itu berganti dengan kebersamaan yang terus menerus, kebergantungan satu sama lain, kebutuhan untuk selalu berkomunikasi, bertemu atau tidak bertemu, lalu berujung pada perhatian sampai kepada hal-hal terkecil. Setidaknya, waktu itu, “dia” sudah meruntuhkan pagar-pagar batas yang ku bangun tinggi-tinggi di depan hatiku bahwa “you are not allowed to fall in love with him”. Setidaknya, dulu, itulah yang ada di pikiranku. Bukankah orang yang sedang jatuh cinta akan selalu mengaitkan segala hal kecil untuk menjadi lebih dari sekedar kebetulan dan menjadi kemungkinan-kemungkinan? Ah, mungkin aku yang terlalu suka berandai-andai ya, calon suami.

Semua itu kemudian berubah dalam sekejap. Aku tidak pernah tahu alasan apa yang membuat “dia” memperlakukan aku seperti itu. Maksudku, di samping aku sebagai teman yang jatuh cinta dengan “dia”, aku adalah temannya. Dan aku tidak pernah mengharapkan “dia” harus membalas semua perasaanku ini. Aku hanya butuh dia tetap ada sebagai teman, tapi “dia” pergi juga. Semua permainan menjaga jarak, saling diam, sudah ku ikuti dan hal ini berakhir dengan aku tidak lagi mengenal “dia”. Mungkin “dia” juga tak lagi mengenalku. Mungkin juga “dia” bahkan tidak peduli lagi.

Hai, calon suami, masih baca kan? Masih kuat baca atau sudah enek?

Ah begitulah. Rasanya lega sudah bercerita tentang “dia” sama kamu. Kamu kapan sih muncul? Buruan yah, rasanya aku udah capek banget. Tuh kan ngeluh hahaha maafin deh.

Apa kabar “dia”? 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s