Surabaya : The Hot yet Lovable One.

Gak berasa, akhirnya sampai juga aku ke hari ini. Hari ini, sama juga seperti hari kemarin, besok dan beberapa hari ke depan adalah hari-hari terakhirku sebelum meninggalkan Surabaya, the hot yet lovable one. Perasaanku campur aduk banget, di tambah mood yang jelek dan kondisi badan yang kurang baik, aku memutuskan untuk membuat tulisan ini. Setidaknya, dengan menulis, aku bisa mengungkapkan semua pikiran-pikiran jelek di otak yang sudah saling berdesakan ingin membludak keluar dan tidak memiliki tempat untuk melampiaskan. Dalam tulisan ini, aku ingin menceritakan seperti apa sih Surabaya dalam kacamata seorang Lala 🙂 dan semoga kalian semua berkenan untuk membaca.

Bulan Agustus, 2012. Hampir lima tahun berlalu sejak hari itu. Hari dimana aku pertama kali menjejakkan kaki-kaki ku di kota ini. Saat itu, aku yang tidak pernah pergi kemanapun seorang diri hanya bisa diam sambil mengikuti langkah kaki Ibu dan Mas Khisni. Ya, merekalah yang mengantarku ke Surabaya lima tahun lalu, buat apa? Gak lain lagi, tentunya untuk melakukan daftar ulang di kampus ITS. Saat itu, aku cuma berpikir bahwa Surabaya adalah kota yang sangat besar, kota yang penuh dengan supir taksi, ojek, becak dan sebagainya yang sigap berebutan calon penumpang di terminal dan juga di stasiun, kota yang tetap ramai walaupun sudah malam, dan tentunya kota yang sangat panas. Sebagai orang pantai, haha, maksudnya karena aku tinggal di Tegal yang lokasinya cuma berapa km dari Pantura, Surabaya ketika lima tahun lalu bagiku sangatlah panas. Jadi, kesan pertama adalah panas.

Di kota yang panas ini lah kemudian aku, yang masih bocah lulusan SMA, yang kemana-mana selalu ditemani Bapak sama Ibu, yang kalo kelaperan tinggal bilang laper terus ada makanan, yang gak pernah nyuci baju sendiri, yang gak tahu cara ngidupin kompor dan yang kalau kena hujan gerimis dikit aja langsung sakit-sakitan, menjalani hari-hariku sebagai mahasiswa baru di Teknik Kimia, ITS. Kayak jalanan yang selicin apapun, pasti punya bagian bergelombang, begitu pula dengan kehidupanku di sini. Satu tahun pertama di Surabaya diwarnai dengan thermal shock, culture shock, ditambah lagi dengan berbagai drama yang rasanya emang gak akan seru kalau gak ada di dalam kehidupan aku. Mulai dari pengkaderan yang menyita banyak waktu, belum lagi badan yang gampang sakit : mulai dari maag, diare, lemes, pusing, sampe cacar, ada aja aku sakit sampai-sampai saking bencinya sama obat yang pait, aku jadi bisa nelen obat tanpa harus digerus dipakein air baru diminum. Sampai yang tergak-akan bisa dilupakan, ya, waktu aku nangis parah setiap didatengin Ibu Bapak ke kosan, setiap mereka pamitan mau balik, setiap aku ke rumah terus mau balik ke Surabaya. Pokoknya, drama mulu ! Banyakan nangisnya! Gak sampe di situ, aku yang di kala itu entah kenapa gak merasakan bahagia kuliah di ITS, memutuskan untuk balik ikut bimbel, mempersiapkan segalanya buat SBMPTN 2013, demi mengejar mimpi menjadi dokter yang mana berujung gagal. Kalau di inget lagi, masa-masa tahun pertama di Surabaya rasanya bener-bener suram.

September 2013, aku kembali lagi ke Surabaya. Mungkin ini memang sudah jalan yang ALLAH kasih ke aku. Karena di tahun itulah yang menjadi awal bagi aku menemukan potongan-potongan kebahagiaanku di Surabaya, di kota yang panas, penuh drama dan suram itu. Kita tidak bisa memaksakan orang lain untuk peka kepada kita, seperti halnya kita yang terkadang ingin memenangkan ego kita di depan orang lain. Kalau boleh jujur, dulu, ada beberapa teman angkatan yang sampe ngediemin, sampe gak nyapa kalo ketemu, sampai bikin aku bingung apa aku punya salah secara personal ke mereka, entah kenapa, yasudahlah. Toh sekarang sudah baik-baik saja semua nya 🙂 . Surabaya juga lah yang sudah mempertemukanku dengan semua teman-teman tersayang, yang didekatkan dengan alasan sesimple sama-sama hobi makan dan jalan. Keluarga bincang kuliner, yang mengawali kedekatan dengan membuat multiple chat facebook ketika liburan semester 4 *entah siapa yang buat juga lupa*, yang kemudian berubah menjadi keluarga berbagi senyum ketika LINE mulai populer. Dan kami masih berbagi “senyum” sampai sekarang 🙂 . Belum lagi keluarga SC 3, yang dari maba bareng mulu, sampai sekarang juga masih bareng 🙂 . Belum lagi keluarga dalpro, yang setahun terakhir selalu bareng pas suka duka nyelesein Pabrik sama Skripsi. Belum lagi keluarga K52, ternyata banyak banget orang yang mencintai dan kucintai di Surabaya 🙂

s1314 wan (8)

Mei, 2017. Tidak terasa petualanganku di sini mendekati ujung akhir. Mendekati akhir cerita yang membuatku sedikit banyak merasa menye-menye. Entah ini pengaruh kepala yang lagi kambuh pusing-pusingnya, entah ini efek bad mood, tapi jujur rasanya berat buat ninggalin. Ternyata, kota yang panas ini, kota yang suram bagiku lima tahun lalu, bisa berubah menjadi kota lovable yang menyimpan lebih dari seribu kenangan dengan orang-orang yang aku sayangi 🙂 . Ah, I miss you so much guys. 

Selamat tinggal Surabaya, terima kasih atas semua kenangan yang ada selama lima tahun disini.

Surabaya, 18 Mei 2017.

Lala, yang sedang menghitung hari untuk meninggalkan kota ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s