Ini adalah Ramadhan Terakhir(ku)

Judul tulisan malam ini terinspirasi dari Pak Ustadz yang malam ini mengisi kultum di masjid tempat aku mengikuti solat tarawih, yang entah bernama siapa. Terima kasih Pak Ustadz buat inspirasinya. Marhaban Ya Ramadhan. Bulan yang sudah lama ditunggu-tunggu, bulan yang begitu dirindukan oleh kita semua, akhirnya datang juga. YEAYYYYY #soraksoraibergembira. Eits, seneng boleh, heboh boleh, sorak-sorai mau nari-nari juga boleh. Tapi, apa nih yang udah temen-temen persiapkan buat menyambut bulan suci penuh berkah ini? Bulan, dimana Al-Qur’an turun, dimana pahala dilipatkan 10 kali lipat, dimana ibadahnya, yaitu puasa pahalanya adalah bagi Allah, bulan yang semua manusia berlomba-lomba datang ke masjid dan memenuhi barisan-barisan jamaah di masjid. Rasanya bakal sayang banget kan kalau bulan ini dilewatin begitu saja tanpa persiapan apapun. Yuk, intip persiapan ku menyambut bulan Ramadhan!

Ramadhan sudah tiba lagi. Di satu sisi, aku merasakan kerinduan, di sisi lain, aku juga merasakan betapa waktu berjalan begitu cepat karena dia sudah kembali hadir. Ngomong-ngomong soal Ramadhan, tahun ini, sama seperti tahun lalu, aku menyambut Ramadhan pertamaku di Surabaya, di tanah rantau yang kini rasanya berat untuk kutinggalkan. Dalam perjalanan hidupku, aku menganggap bahwa Ramadhan tahun lalu adalah Ramadhan terbaik di antara seluruh Ramadhan yang pernah ku temui. Berpikir tentang itu, aku pun menginginkan Ramadhan tahun ini bisa menjadi lebih baik dibanding tahun lalu. Semoga, aku dan teman-teman yang berkenan membaca tulisanku ini, kita semua bisa meningkatkan kualitas iman dan islam kita dalam Ramadhan tahun ini.

Ramadhan Meningkatkan Kualitas Iman dan Islam

Sebagai manusia, kita gak bisa memungkiri bahwa kita butuh sesuatu yang mampu memecut tubuh kita, mendorong kita untuk melakukan suatu hal dan meningkatkan kemampuan kita dalam melaksanakan hal tersebut. Bagiku, itulah Ramadhan. Ramadhan mirip katalis, yang kaya mak comblang antara zat pereaksi untuk menghasilkan zat hasil reaksi. Ramadhan juga seperti itu, mak comblang bagi kita untuk lebih dekat lagi dengan Allah, Sang Khalik, untuk kemudian menghasilkan sesuatu yang disebut dengan iman dan islam, tentunya dengan kualitas yang baik dan lebih baik lagi. Itulah makna Ramadhan menurut kacamata Lala yang ilmu agama nya masih di kisaran anak TK 😦

Menyambut Ramadhan dengan Membuat Ramadhan Goals

Seperti yang aku bilang, ilmu agamaku masih di kisaran anak TK. Hiks. Namun, bukan berarti aku cuma bisa bersedih. Temen-temen semua, yang berpikiran sama kaya aku, aku pernah baca kutipan yang kurang lebih seperti ini ada seseorang yang jarang sekali membaca Al-Qur’an, saking jarangnya, dia yaudah pasrah aja gitu, kan dia jarang baca, pasti dosa dia banyak, gitu pikirnya, ah yaudahlah Allah pasti marah sama dia dsb. Intinya gini, seseorang itu saking jarangnya mengaji, bukannya memperbaiki diri dengan memulai mengaji eh malah pasrah aja gitu sama dosa-dosanya. Bukan gitu yang bener. Harusnya, kalian tanyakan tuh dalam hati kalian dosa apa kalian sama Al-Quran, dosa apa Al-Quran ke kalian sampai baca dan bertaubat aja gak mau? Allah Maha Pengasih, Maha Pengampun, bertobatlah sungguh-sungguh selagi kita bisa. Keengganan kita buat bertaubat, buat memperbaiki diri, buat meningkatkan iman dan islam kita ini sebenernya gak lain adalah bisikan setan yang kepengen punya temen banyak di neraka jahanam nanti.

Salah satu cara memperbaiki diri, bisa kita lakukan di bulan Ramadhan. Selain karena iming-iming pahala yang luar biasa dari Allah, tentunya karena bulan ini seperti pecut buat tubuh kita untuk melakukan ibadah. Supaya terlaksana, temen-temen bisa coba buat Ramadhan Goals kalian masing-masing. Ini menurut pengalaman pribadiku lumayan efektif, karena rasanya malu gitu kalau sudah bikin goals tapi gak kesampean. Target itu penting, kalau perlu buat target setinggi-tingginya. Hal ini gak salah sih, tapi sekali lagi karena ini perkara ibadah, aku lebih suka membuat target yang kira-kira memang bisa ku capai dan selanjutnya istiqomah dalam pelaksanaannya. Temen-temen mungkin punya pandangan berbeda dalam membuat goals masing-masing. Itu suka-suka temen-temen aja.

Ngomongin soal goals, semoga goals aku dan temen-temen semua bisa tercapai ya. Hmm, apa sih contoh goals nya? Bisa gini, meningkatkan jumlah rakaat solat dhuha dari dua menjadi empat rakaat, atau mungkin sesimple melaksanakan dhuha dimanapun, walaupun sedang bepergian. Bisa juga, meningkatkan jumlah bacaan Quran dalam sehari, dari two days one juz menjadi one day one juz or even better two juz one day. Contoh lain bisa gini, aku mau hafal 55 ayat Al-Kahfi sekelarnya Ramadhan dan lain sebagainya. Ah, rasanya baru kemaren-kemaren aku menyambut Ramadhan dengan sesimple ikut ibu belanja bulanan trus milih-milih jajan. Jadi, nyambut Ramadhan dengan stok jajanan maksudnya. Eh, Alhamdulillah sekarang goals nya sudah gak tentang makanan. Oh ya, itu tadi contoh-contoh yang berkaitan dengan goals akhirat ya kalau mau bikin goals duniawi juga gak masalah. Pengalamanku sih, menuliskan ramadhan goals ini udah jadi macam reminder ketika kita malas. Jadi berasa diingetin lagi sama diri sendiri kalau kemarin, ketika kita menuliskannya, kita adalah pribadi yang sudah baik, sudah punya niat, masa hari ini bukannya maju malah mundur? Gak mau kan mengalami kemunduran instead of kemajuan? Yuk, dibuat Ramadhan goals nya.

Ini Adalah Ramadhan Terakhir(ku)

Bisa meningkatkan kualitas iman dan islam adalah makna bulan Ramadhan bagiku. Bekerjalah seakan-akan engkau akan hidup seterusnya di dunia dan beribadahlah seakan-akan engkau akan mati esok. Ini adalah Ramadhan Terakhir(ku) adalah motivasi yang hendaknya ditanamkan dalam hati kita supaya segala ibadah yang dilakukan adalah semaksimal mungkin. Kita tidak tahu kapan Allah akan mencabut nyawa kita dengan mengutus malaikatNya, bahkan kita tidak tahu ketika kita tidur, saat kemudian apakah ruh kita akan dikembalikan oleh Allah dan kita menjadi bangun? Kita tidak pernah tahu. Jadi, jangan sia-siakan Ramadhan tahun ini dengan hal sia-sia. Bersedih hati atas dosa, bersusah-susah atas urusan dunia, bergalau-galau atas jodoh, bermuram-muram memikirkan harta, itu semua akan kalah dengan ibadah, akan kalah dengan berpegang kepada iman dan islam yang balasannya sudah jelas di sisi Allah.

Surabaya, 26/05/2017

Ada kutipan bagus dari seorang Jalaludin Rumi, it is so anticlimax ! Giliran mau ngutip kutipan bagus barulah ingat itu buku-buku sudah aku masukkan ke kardus siap buang hahaha, bukan maksudnya siap kirim ke rumah #gakserukalaugakalay. Pokoknya dari quotes nya itu ada kalimat kurang lebih begini, yesterday you wanted to change the world, wanted to shake it, but today you become wiser, you just want to change yourself. Happy Ramadhan, all 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s