Mengecap Manisnya Iman

29 hari telah berlalu. Seperti biasa, sang waktu selalu cepat memutar jarum penunjuknya hingga hari-hari penuh berkah itu kini hanya tertinggal di belakang kita. Bertemankan kenangan, tertumpuk rapi di dalam memori sebagai sesuatu yang akan selalu dirindukan bersama juga ramadhan-ramadhan tahun-tahun yang lalu. Ah, tak apa. Aku rela engkau menjadi yang dirindukan, karena dengan itu aku selalu bisa merasakan rindu dalam menunggu, merasakan kegembiraan ketika menyambut dan merasakan sedih ketika terpisah (hanya untuk berharap bisa bertemu kembali. AMIN).

Apa kabar ramadhan goals? Tercapai atau tidaknya, yang terpenting adalah semoga kita bisa menjaga diri agar terus bisa istiqamah menuju kebaikan. Semoga juga ramadhan yang sedang sejenak pergi ini tetap bisa meninggalkan pelajarannya di hati masing-masing kita. Bagiku, pelajaran terbaik dari ramadhan adalah Al-Qur’an. Entah itu tentang mempelajari, belajar kesabaran hingga menanti-nanti malam lailatul Qadar semua terhubung dengan Al-Qur’an. Beberapa hari lalu aku sempat berpikir tentang berdoa seperti ini :

Ya Rabb, jadikan hatiku berselimutkan Al-Qur’an sehingga selalu mengingatnya. Jadikan lisanku hanya menuturkan kebaikan seperti apa yang diajarkan Al-Qur’an. Jadikan pula tangan dan kaki ini mengamalkan apa yang sudah diterangkan dalam Al-Qur’an.

Dan semoga teman-teman yang membaca tulisan ini tergerak hatinya untuk mempelajari Al-Qur’an karena bagiku semua menjadi lebih luar biasa dengan mendekatkan diri kepadanya. Dan dalam pikiranku yang sederhana ini, saking takjubnya dengan Al-Qur’an, aku merasa bahwa jika semua orang (non muslim ataupun muslim) mau mempelajari Al-Quran maka tidak akan ada lagi keraguan tentang islam. Tetapi, kembali lagi, hidayah dan petunjuk datangnya hanya dari Allah.

Malam ini sudah malam 1 syawal, esok hari sudah lebaran. Menu buka puasa di rumah, sama seperti tahun-tahun lalu, sayur lodeh terong dan ayam goreng. Lengkap dengan kerupuk udang (harus merk finna), kecap tengis (kecap dengan irisan bawang merah, cabe kecil /tengis) dan juga sambal goreng buncis udang. Lebaran kali ini juga masih sama, masih menjadi pemudik tujuan Pekalongan. Alhamdulillah.

Hanya satu hal yang berbeda. Selepas sholat maghrib, aku duduk dan berdoa seperti biasa, hanya saja backsoundย yang terdengar adalah suara toa masjid persis di seberang jalan yang mengumandangkan takbir. Hatiku bergetar. Sampai dengan tahun lalu, aku masih saja merasa lebih senang dibanding sedih ketika hari lebaran tiba. Tapi, tahun ini rasanya kesedihan itu lebih banyak dibanding kegembiraanku menyambut datangnya lebaran. Aku harus berpisah dengan ramadhan. Air mataku menetes. Rasanya sesak. Bisakah aku bertemu lagi? Tidak, tidak. Apa kemarin amalanku sudah cukup? Apa kemarin aku berhasil bertemu malam lailatul Qadr? Apa amalanku diterima? Dan suara isak tangis itu perlahan mereda. Menyisakan sesak dan suara takbir yang kian menggetarkan. Inikah manisnya iman? Kalau benar, aku hanya bisa bersyukur.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Taqabbal ya Karim.
Mohon maaf lahir dan batin.
Selamat hari raya idul fitri 1438 H.

 

Happy Eid Mubarak

-lala โค-

Pekalongan, 29 Ramadhan 1438 H.

 

 

 

 

Advertisements

One thought on “Mengecap Manisnya Iman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s