Bolehkah Kita Menyerah ?

Another Self Talk : Boleh Gak Kita Nyerah ?

 

Damn it. Laptop rusak. Bolak-balik dinyalain cuma muncul tulisan starting windows trus welcome trus balik lagi ke opsi yang salah satunya harus di klik bertuliskan starting windows normally. Terus, repeat. Gitu aja sampek kapan tahun 😦

Malem ini, didorong keinginan kuat buat menulis, aku bela-belain nulis dengan segala keterbatasan, cuma modal hp. Harap dimaklumin karena aku terlalu lelah minjem laptop sana-sini ( baca : make punya bapak atau minjem adek ) , selelah laptop aku yang cuma bisa boothing gak jelas, selelah aku sama kehidupan yang melelahkan ini.

Pertanyaannya sederhana aja, boleh gak kita nyerah? Mungkin, sebagian bakal mikir gak bolehlah nyerah. Analisanya, nyerah kan putus asa, kalau putus asa berarti nggak percaya ada Tuhan. Gak percaya sama Allah yang Maha Mendengar doa hamba-hambaNya dan Maha Melihat usaha setiap hambaNya. Sebagian lain bakal bilang boleh-boleh aja, hidup juga hidup-hidup lo, suka-suka lo aja mau ngapain. Sisanya, boro-boro jawab. Kepikiran tentang beginian juga kagak.

Sebenernya, seiring bertambahnya usia, semenolak gimanapun kita sama yang namanya kedewasaan, kedewasaan itu beneran ada loh. Cuma ya, semua butuh proses. Gak ada yang instan, dan lagi, tingkat untuk mencapai nya bakalan beda buat masing-masing kita karena proses pun gak cuma ada satu aja. Gak sedikit juga yang gak sadar kalau mereka sebenernya sedang dalam proses menuju kedewasaan. Belakangan, aku, orang yang menolak dibilang tua & dewasa, dengan kedok segala macam sikap & tuturku yang gak mencerminkan wanita berusia 23 tahun ini, mulai merasakan kedewasaan itu ada. It does exist. Deep in our mind, di sanalah kedewasaan itu bersemayam.

Balik lagi ke pertanyaan yang aku ajukan, boleh gak kita nyerah ? Dengan kedewasaan yang ada di pikiranku itu, aku pun mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dengan tidak hanya melihatnya dari satu sisi. *udah sering banget bahas ini* Apa yah, bukannya jadi orang yang banyakan mikir sebelum ngejawab sesuatu sih, cuma cara pandangku sama sesuatu hal itu mengalami perubahan. Katakan gini, aku jaman SMA mungkin bakal bilang boleh-boleh aja, hidup-hidup aku ini. Peduli apa. Aku jaman kuliah, bakal bilang gak boleh nyerah, ada Allah. Aku jaman sekarang? Boleh-boleh aja nyerah, cuma buat ngingetin kita aja kalau kita ini hidup, yang mana isinya cuma usaha, doa, dan gak semua-semua berjalan sesuai dengan ekspektasi kita. Gak segalanya yang aku pengenin bisa aku dapetin, bisa aku dapetin dengan mudah dan bahkan bisa aku hindarin. Nyerah itu tanda hidup loh, bener, karena di akhirat ntar semau-maunya kita nyerah, selelah apapun kita kalau dapat siksa *naudzubillah* ya kita gak akan bisa nyerah. No white flag in the afterlife.

Jadi manfaatkan bendera-bendera putih itu selagi hidup. Menyerah itu udah macem kaya exit door ketika kita lelah sama apa yang sedang kita lakuin. Dan yang namanya exit door itu bukan berarti jalan buntu. Exit door itu pintu keluar dari A masih nyambung juga ke B. Pokoknya gitu. Nyerah itu boleh, boleh banget, tapi ya dipikirkan lagi lah jalan lainnya buat mencapai apa yang kita inginkan. Nyerah di jalan A cuma buat maju di jalan B. Gitu. Iya kan? Balik lagi ke pertanyaan di awal, dan maafin keruwetan jalan pikiranku, never judge someone and never ever argue on others’ opinions. Aku juga gak akan menuntut orang lain menjawab pertanyaan ini seperti aku menjawab pertanyaan ini. Dan jawaban lain, bukan berarti dia belum dewasa.

 

I need my white flag

Aku capek, literally, capek-secapek-capeknya sama semua prasangka buruk yang ada di otakku tentang gimana aku ke depannya. Bisa gak sih aku dapet kerja? Bisa gak sih aku ketemu abang ganteng lagi sholeh? *apaan ini* Bisa gak sih aku jadi orang bener? Bisa gak-bisa gak. Terus aja bisa gak, i need one of those white flags , just one buat semua angan-angan dan andai-andai yang gak jelas ini.

Berkali-kali aku meyakinkan semua prasangka buruk tentang masa depanku ini cuma bagian dari pms *paska mens siklus* paska, karena sekarang lagi. Atau apa cuma aku doang juga yang ngalamin dobel PMS ? *pra & paska* . Tapi, mau gak mau, dengan alasan terpengaruh apapun, saat ini, aku merasakan kayak gini. Turun kepercayaan diri, capek, lelah. Udah mau nyerah aja. I need my white flag. I need an exit door. Dan yang tersisa cuma satu keyakinan kalau selelah apapun aku sama semua ini, semua pasti bakal ada ujungnya. Sehabis kesulitan pasti ada kemudahan. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sampai dua kali diulang di Al-Quran, masa iya gak percaya? Dan biarkan aku menyerah sama semua prasangka buruk ini.

 

Again, this is just self-talk. 

Hope me find that exit door.

Advertisements

2 thoughts on “Bolehkah Kita Menyerah ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s