Me-ni-kah

Di  Menikah/i

Berhubung judul postingannya gak bisa pake huruf tercoret, makanya aku tulis ulang judul yang bener di atas tulisan ini. Ya, gak salah baca kok, di menikah(i). Judulnya emang di coret menikah/i. Yay, malam ini bakal bahas, kupas tuntas semua pandangan aku tentang apa itu menikah.

Meski tidak berpengalaman, mungkin belum, karena emang belum menikah, tetapi rasanya topik semacam ini udah bukan hal yang tabu lagi buat dibahas oleh terutama cewek-cewek seusiaku, yang menginjak usia 23 tahun di tahun 2017 ini. #DemiapaternyatangetikpakenotebooklebihcapekdaripadapakeHP #GAKPENTING

Jadi, yuk, sekalian aku menyapa si calon suami yang udah lama gak diurus, sekalian sama-sama memuntahkan pemikiran kita semua tentang menikah.

Supaya maksud tersampaikan dengan baik dan tulisan bisa mengalir deras layaknya air, maka ijinkanlah kali ini aku bakal bikin tulisan berupa Q&A. Selamat membaca dan semoga cukup menarik untuk mengisi waktu luang teman-teman semuanya.

Kapan mulai terpikir soal menikah?

Aku pernah bilang kayak gini ke salah satu temenku, bahasan tentang jodoh, baik itu masalah bertemu calon, menikah, berumah tangga, bahkan punya anak, itu semuanya seketika muncul setelah lulus kuliah. Persisnya lagi setelah wisuda. Sebelumnya, boro-boro kepikiran masalah menikah, ngurusin skripsi aja gak kelar-kelar. Dan memang, semua pemikiran soal menikah muncul sekonyong-konyongnya ya setelah wisuda. Banyakan nganggur, banyakan waktu buat mikirin hal-hal yang sebelumnya sama sekali gak terlintas di pikiran.

Sekarang kan udah terpikir, punya target gak ?

Target? Target nikah maksudnya? Dulu pernah iseng bahas beginian sama anak Lab dan spontan ngejawab pengennya usia 25 tahun. Melihat kondisi sekarang, mungkin 27 tahun masih bisa dikompromi.

Kalau calon, ngerti si belom ada, cuma pengennya yang gimana ?

Pertanyaan yang pas banget buat dikeep sama si calon suami. Well noted ya, sebenernya aku gak akan pernah punya jawaban soal hal begini. Siapapun kamu nantinya, aku cuma berharap kamu bisa jadi calon imam yang baik. Tapi, jujur aja kalau sampai saat ini aku belum bisa semisal tiba-tiba ada orang dateng, ngajak nikah, sebaik apapun dia saat menjadi kepala keluarga nantinya.

Pendapat soal nikah muda ?

Kepengen. Pendapat macam apa ini ? Ditanyain malah jawab kepengen. Iya, sebenernya kepengen, tapi di suatu pembicaraan dengan Mas Khisni, terus aku bilang menargetkan umur 25 tahun buat nikah, dia jawab 25 udah terlalu bosok buat seorang cewek menikah muda. HAHAHAHA ANJIRRR. Jadi, balik lagi ke target umur ya, di awal aku udah bilang kalau sekarang 27 tahun masih bisa dikompromi, melihat situasi dan kondisi dimana aku belum berpenghasilan sendiri juga.

Nikah muda menurut aku sih sesuatu yang besar banget. Kebayang kan, aku aja baru terpikir tentang menikah itu sekitaran tahun lalu. Terus, gimana dong sama temen-temen seumuran yang udah nikah? Makanya menurut aku nikah muda itu sesuatu yang besar banget. Orang-orang yang menjalaninya juga menurutku perlu diacungi jempol. Karena menurutku, di samping mereka berani mengambil keputusan besar untuk hidupnya, mereka juga orang-orang yang lebih awal berpikiran maju dibanding teman-teman di usianya. Mereka juga orang-orang yang sudah mempersiapkan dirinya lebih awal dibanding teman-teman di usianya. Bukan berarti kalian yang belum menikah berpikiran sempit, apalagi gak mempersiapkan diri sebaik mungkin. Hanya saja, ini jika bandingannya sama aku. Ketika aku sibuk memikirkan siapa kira-kira calon jodohku, calon suamiku, mereka yang menikah muda sudah pasti melewati hal itu sebelumku dan ketika aku sibuk berpikir yang seperti itu, mereka telah mengambil langkah. So, nikah muda is a big decision.

Selain itu, aku juga ingin menjelaskan kenapa sih aku kepengen banget nikah muda. Meski 27 tahun bukan umur yang muda lagi, tapi katakan setidaknya menikah di usia kurang dari 30 tahun. Di sini aku ingin mengambil contoh bapak dan ibuku, pasangan yang paling kukenal dibanding pasangan-pasangan lain yang ada di muka bumi. Untuk seusia mereka, sudah banyak sekali teman-temannya yang memiliki menantu bahkan cucu. Iya, orang tuaku menikah jauuuuh sekali dari istilah nikah muda, mereka menikah di tahun 1991, dan ketika itu usia Ibu sudah 34 tahun, Bapak 33 tahun, setahun di bawah Ibu. Daaaan meskipun kematian tidak memandang umur, atau umur bukanlah jaminan seberapa lama lagi manusia hidup di dunia, aku hanya ingin memiliki waktu lebih lama lagi bersama anak-anakku nantinya. Setidaknya, ketika mereka sudah mulai bisa berpikir dan mengerti tentang dunia, aku bisa menjadi teman terdekat yang bisa memahami dunia mereka dan bersama mereka menjelajahi dunia dalam kondisi terprima yang aku miliki. Tidak ada maksud apapun, aku sangat bersyukur memiliki Bapak dan Ibu yang selalu menyayangiku bagai princess :*. Dan semoga kesehatan, segala kebaikan selalu dilimpahkan Allah kepada keduanya.

Maksud dari judul di coret menikah/i apa ya?

Jadi begini. Entah cuma aku atau beberapa kalian juga mengalami hal kayak gini. Pernah gak? Rasanya sumpek, butek, apa-apa dipendem sendiri, those unspoken words do exist kan? Kata-kata yang gak bisa kita ceritain semua-semuanya ke orang tua, yang bisa kita bagi sama sahabat, tetapi sahabat gak selamanya gak sibuk. They have their own business too. And, sometimes I thought that I need a person to stand by my side. Seseorang yang bisa kapanpun ada dan ada kapanpun ketika aku butuh untuk berbagi cerita. Seseorang yang the whole of his universe is me.

Sama juga dengan pertanyaan mengenai kepengen calon suami yang kayak apa, terus dijawab sama aku pengen yang bisa jadi calon imam yang baik. Tapi, terus ngomong kalau gak mau sama sembarang orang yang datang, sebaik apapun orang itu dalam memimpin sebagai kepala keluarga nantinya.

Menikah itu kata kerja aktif kan? Baik si pria maupun si wanita dua-duanya sama-sama me. Sekarang, kalau aku turutin buat dapet seseorang yang the whole universenya is me bisa jadi aku yang menikah, sementara calon suamiku yang dinikahi. Sebaliknya, kalau aku turutin siapapun yang datang ngajak nikah selama dia bisa jadi calon imam yang baik, bisa jadi aku yang dinikahi, sementara calon suamiku yang menikahi.

Contoh lainnya. Si cowok pengen punya istri pinter masak, pinter bebersih pinter ini itu. Si cewek pengen punya suami yang pengertian, ikut ngurusin pekerjaan rumah, rapi, gak suka berantakan dan ini itu sebagainya. Kalau di pikiran kita masih begini, bisa jadi yang kita inginkan adalah menikah, tetapi tanpa sadar kita sendiri dinikahi. Baik dari sisi cewek, maupun cowoknya ya. Intinya menikah itu bukan perkara nurutin keinginan. Kalau keinginan terus diturutin, bisa-bisa bukannya menikah, justru malah dinikahi. Dinikahi oleh keinginan sendiri.

Banyak kejadian di sekelilingku yang memperlihatkan gimana mudahnya seseorang bertemu dengan jodoh mereka, lalu semudah itu mereka memutuskan untuk menikah. Semudah itu bagi kita yang melihat untuk berkata mudah. Di balik itu, kita tidak tahu perjuangan apa yang masing-masing telah mereka lewati. Seberapa keras usaha mereka pun kita tidak dapat melihat, karena memang hanya fungsi hasil yang tampak di mata kita.

Jadi, mungkin itu. Saat ini sedang berusaha untuk dimenikah/i dan biar berdua sama-sama menikah, bukan dinikahi. Apalagi dinikahi sama keinginan.

 

“Aku sangat sadar pemikiranku masih sangat dangkal”-a

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s