Tawakkal

Orang bijak mengatakan bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati tuannya.

Dan jadilah kita semua tuan yang mempercayai kemampuan kita sendiri. Bukankah Allah tidak akan memberikan beban di luar  batas kemampuan kita?

Maka yakinilah bahwa kita sejatinya mampu. Hanya saja waktu tunggu kita untuk bertemu dengan apa yang kita sebut kesuksesan itu tidaklah sama satu dengan yang lain. Setiap orang punya pandangan masing-masing mengenai kesuksesan, begitu pula jalan untuk mencapai kesuksesan itu, sehingga menjadi hal yang harusnya mampu diterima jika waktu tunggu kita tidaklah sama antara satu dengan yang lain. Orang bijak yang lain berkata jika manusia berjalan di bagian waktu masing-masing.

Ah, jika boleh aku mengganti kalimat kutipan orang bijak yang pertama menjadi Lala mengatakan bahwa tidak ada usaha yang mengkhianati tuannya jika dibarengi dengan tawakkal. Rasa-rasanya kalimat ini menyempurnakan kalimat sebelumnya.

Begitu pula kalimat kutipan kedua kuganti menjadi Lala berkata manusia berjalan di bagian waktu yang sama hanya saja waktu tunggu masing-masing berbeda. Setujukah kalian?

Bukankah hidup itu begitu adanya? Mempelajari, mengoreksi, kemudian kembali memperbaiki?Semua manusia diberikan tenggang waktu masing-masing hingga datangnya hari pembalasan. Maka, yang tersisa hanyalah wa man yatawakkal ‘alallah fahuwa hazbuh. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan memberikan kecukupan. Dan rasa-rasanya tidak ada kalimat yang lebih sempurna dari pada ini. Begitu pun halnya bahwa kesempurnaan hanya milik Allah.

Selamat berusaha yang dibarengi tawakkal 🙏

 

Advertisements

Bolehkah Kita Menyerah ?

Another Self Talk : Boleh Gak Kita Nyerah ?

 

Damn it. Laptop rusak. Bolak-balik dinyalain cuma muncul tulisan starting windows trus welcome trus balik lagi ke opsi yang salah satunya harus di klik bertuliskan starting windows normally. Terus, repeat. Gitu aja sampek kapan tahun 😦

Malem ini, didorong keinginan kuat buat menulis, aku bela-belain nulis dengan segala keterbatasan, cuma modal hp. Harap dimaklumin karena aku terlalu lelah minjem laptop sana-sini ( baca : make punya bapak atau minjem adek ) , selelah laptop aku yang cuma bisa boothing gak jelas, selelah aku sama kehidupan yang melelahkan ini.

Pertanyaannya sederhana aja, boleh gak kita nyerah? Mungkin, sebagian bakal mikir gak bolehlah nyerah. Analisanya, nyerah kan putus asa, kalau putus asa berarti nggak percaya ada Tuhan. Gak percaya sama Allah yang Maha Mendengar doa hamba-hambaNya dan Maha Melihat usaha setiap hambaNya. Sebagian lain bakal bilang boleh-boleh aja, hidup juga hidup-hidup lo, suka-suka lo aja mau ngapain. Sisanya, boro-boro jawab. Kepikiran tentang beginian juga kagak.

Continue reading “Bolehkah Kita Menyerah ?”

Mengecap Manisnya Iman

29 hari telah berlalu. Seperti biasa, sang waktu selalu cepat memutar jarum penunjuknya hingga hari-hari penuh berkah itu kini hanya tertinggal di belakang kita. Bertemankan kenangan, tertumpuk rapi di dalam memori sebagai sesuatu yang akan selalu dirindukan bersama juga ramadhan-ramadhan tahun-tahun yang lalu. Ah, tak apa. Aku rela engkau menjadi yang dirindukan, karena dengan itu aku selalu bisa merasakan rindu dalam menunggu, merasakan kegembiraan ketika menyambut dan merasakan sedih ketika terpisah (hanya untuk berharap bisa bertemu kembali. AMIN).

Continue reading “Mengecap Manisnya Iman”